Membangun Dedicated Server Sendiri untuk BOC
Catatan saya saat BOC mulai membangun infrastruktur cloud sendiri melalui dedicated server, Proxmox, Ceph, dan Proxmox Backup Server di data center Bogor.
Membangun Dedicated Server Sendiri untuk BOC
Ketika BOC diakuisisi, infrastruktur yang kami miliki masih sangat bergantung pada layanan cloud provider lain. BOC memiliki VPS yang disewa dari provider eksternal, kemudian menjalankan model reseller untuk WHM dan cPanel melalui upstream dari provider di luar negeri maupun provider lokal.
Model tersebut cukup untuk menjalankan operasional sebelumnya. Namun, ketika arah BOC mulai diubah menjadi cloud provider, saya menyadari bahwa kami membutuhkan fondasi infrastruktur yang lebih kuat dan lebih bisa kami kendalikan sendiri.
Mencari ruang untuk membangun infrastruktur sendiri
Thrive.co.id memiliki salah satu produk internet bernama Hikarinet. Hikarinet memiliki satu rack server di salah satu data center di Bogor.
Saya kemudian berkoordinasi dengan kepala divisi yang mengelola Hikarinet. Pertanyaan pertama saya cukup praktis:
- masih berapa slot kosong yang tersedia di rack;
- berapa spare public IP yang dapat digunakan;
- berapa kapasitas bandwidth yang tersedia;
- berapa internet speed yang dapat kami manfaatkan;
- dan apakah kapasitas tersebut cukup untuk setup dedicated server BOC.
Ternyata masih tersedia cukup banyak resource yang dapat digunakan. Ini menjadi kesempatan penting bagi saya untuk mulai membangun cloud infrastructure BOC sendiri, bukan hanya menyewa VPS lalu menjual kembali account hosting dari upstream.
Pengadaan server fisik
Setelah memastikan kapasitas rack, public IP, bandwidth, dan konektivitas yang tersedia, saya melakukan pengadaan server fisik untuk BOC.
Infrastruktur awal yang kami siapkan terdiri dari:
- 7 server HPE ProLiant DL380 Gen10;
- setiap server menggunakan 3 SSD berkapasitas 4 TB untuk storage cluster;
- storage antar-server dibangun menggunakan Ceph;
- sistem operasi virtualisasi menggunakan Proxmox;
- Proxmox dipasang pada konfigurasi RAID menggunakan 2 SSD berkapasitas 250 GB per server;
- serta 1 server Proxmox Backup Server (PBS) dengan kapasitas HDD yang besar untuk kebutuhan backup.
Pemilihan arsitektur ini bukan sekadar mengejar jumlah server. Saya ingin membangun fondasi yang dapat menjadi dasar untuk menjalankan virtual machine, menyediakan layanan hosting, mendukung Instant App, dan dikembangkan secara bertahap sesuai kebutuhan pelanggan.
Mengapa menggunakan Proxmox dan Ceph?
Proxmox kami gunakan sebagai platform virtualisasi. Dengan Proxmox, kami memiliki lapisan pengelolaan untuk membuat dan menjalankan virtual machine secara lebih terstruktur dibandingkan mengelola server satu per satu secara manual.
Sementara itu, Ceph digunakan sebagai fondasi storage terdistribusi. Tiga SSD 4 TB pada setiap server menjadi bagian dari storage cluster yang dapat digunakan bersama oleh node-node Proxmox.
Bagi saya, pendekatan ini memberikan ruang untuk membangun layanan yang lebih fleksibel. Ketika sebuah aplikasi atau customer membutuhkan resource, kami dapat menyiapkan virtual machine di atas cluster yang sama tanpa harus memulai dari server fisik baru untuk setiap kebutuhan.
Tentu saja, cluster bukan berarti semua masalah otomatis selesai. Kami tetap harus memikirkan desain network, kapasitas storage, failure domain, monitoring, backup, prosedur recovery, dan dokumentasi operasional. Justru di sinilah proses membangun cloud provider menjadi berbeda dari sekadar menyewakan VPS.
Backup sebagai bagian dari desain awal
Saya tidak ingin backup dipikirkan setelah terjadi masalah. Karena itu, sejak awal kami menyediakan satu server khusus untuk Proxmox Backup Server dengan kapasitas HDD yang besar.
PBS menjadi bagian penting dari arsitektur karena virtual machine, konfigurasi, dan data layanan harus memiliki jalur pemulihan jika terjadi kerusakan hardware, kesalahan konfigurasi, atau kegagalan pada node tertentu.
Memiliki cluster dengan banyak server tidak menggantikan kebutuhan backup. High availability dan backup menyelesaikan masalah yang berbeda. Cluster membantu menjaga layanan tetap dapat berjalan ketika terjadi kegagalan tertentu, sedangkan backup membantu memulihkan data dan konfigurasi dari kondisi sebelumnya.
Dari reseller menjadi cloud provider
Perubahan terbesar dalam proyek ini bukan hanya perpindahan dari VPS ke server fisik. Perubahannya adalah cara saya memandang BOC.
Sebelumnya, fokus utama adalah bagaimana menjalankan layanan di atas resource yang disewa dari upstream. Setelah membangun infrastruktur sendiri, saya harus mulai memikirkan BOC sebagai penyedia platform:
- bagaimana resource dibagi;
- bagaimana layanan dibuat dan diprovision;
- bagaimana customer mendapatkan environment;
- bagaimana kapasitas direncanakan;
- bagaimana gangguan ditangani;
- bagaimana backup dan recovery dijalankan;
- dan bagaimana seluruh proses dapat diulang secara konsisten.
Infrastruktur fisik ini kemudian menjadi fondasi untuk langkah-langkah berikutnya, termasuk pengembangan Instant App Hosting dan Instant App Server. Dengan fondasi tersebut, kami dapat mulai mengubah proses manual menjadi provisioning layanan yang lebih cepat dan terstandar.
Babak baru Building BOC
Membangun dedicated server sendiri membuat saya melihat bahwa transformasi cloud tidak hanya berkaitan dengan membeli hardware atau memasang Proxmox. Tantangan sebenarnya adalah mengubah infrastruktur menjadi layanan yang dapat digunakan, dikelola, dan dikembangkan secara berkelanjutan.
Tujuh server HPE, Ceph, Proxmox, dan PBS adalah fondasi awal. Setelah itu masih ada pekerjaan panjang untuk membangun automation, monitoring, dokumentasi, billing, support, dan proses operasional yang dapat mendukung pertumbuhan BOC.
Bagi saya, inilah salah satu langkah paling penting dalam perjalanan Building BOC: mulai mengambil kendali atas infrastruktur sendiri dan membangun platform cloud dari fondasi yang nyata.
Saya tidak lagi hanya mengelola layanan di atas VPS milik provider lain. Saya mulai membangun infrastruktur yang dapat menjadi dasar bagi BOC untuk benar-benar beroperasi sebagai cloud provider.